atap baja ringan

Mengenal Baja

Mengenal Baja

Istilah baja bukan hal asing lagi di telinga kita. Dalam keseharian, materila logam ini mudah ditemukan di sekeliling kita. Tidak percaya? Coba perhatikan perangkat dapur atau perangkat makan anda; pasti banyak yang terbuat dari stanliess steel atau yang dalam bahasa Indonesia berarti baja tahan karat. Demikian halnya saat Anda berada dalam gedung tinggi atau melintas jembatan; baja menjadi komponen pertama yang memungkinkan Konstruksi itu dapat berdiri kokoh. Namun, apakah baja itu sebenarnya? Apa saja unsur yang terkandung di dalamnya sehingga ia memiliki kekuatan begitu besar?

                Sebelum membahas lebih dalam tentang baja ringan, pengenalan dasar soal baja tetu akan sangat berguna bagi Anda.

Apa Itu Baja?

Menjawab pertanyaan ini, logam mungkin menjadi salah satu jawaban Anda. Tapi, untuk menjabarkan lebih lanjut logam seperti apakah baja itu, kita membutuhkan jawaban yang lebih lengkap.

                Baja adalah logam campuran yang tersusun atas besi (FE) dan carbon (C). Jadi, baja berbeda dari besi (Fe), aluminium (Al), tembaga (Cu), emas (Au), dan titanium (Ti) yang merupakan logam murni. Dalam persenyawaan antar besi dan karbon (unsur nonlogam) tersebut, besi menjadi unsur yang lebih dominan jumlahnya dibandang karbon. Kandungan karbon berkisar antara 0,2-2, 1% dari berat baja, tergantung tingginya. Secara sederhana, fungsi karbon adalah meningkatkan kualitas material baja, yaitu kuat daya tariknya  (tensile strenght)  dan tingkat kekerasannya (hardness).

                Selain karbon, sering juga ditambahkan unsur chrom (Cr), nickel (Ni), vanadium (V), molybdaen (Mo) untuk mendapatkan sifat-sifat tertentu yang dikehendaki pada aplikasi dilapangan. Misalnya saja sifat antikorosi, tahan panas, dan tahan temperatur tinggi.

                Baja sendiri terbagi dalam beberapa klasifikasi. Perbedaan klasifikasi ini dipengaruhi antara lain oleh kadar karbon  dalam campurannya, unsur lain selain karbon yang ditambahkan, dan proses pembuatannya. Dengan kata lain, perbedaan komposisi  unsur yang terkandung dalam baja akan menghasilkan baja dengan sifat yang berbeda pula. Sebagai contoh, baja dengan kadar karbon 0,05%-0,30% termasuk dalam klasifikasi baja karbon rendah (low carbon steel) yang memiliki sifat mudah ditempa. Sementara baja dengan kadar karbon0,60%-1,5% dikategorikan dalam baja karbon tinggi (high carbon steel) yang sulit dibengkokkan, dilas, atau dipotong.

                Dengan sifat-sifat spesifik yang dimiliki masing-masing baja, tak heran jika penggunaan baja sangat luas. Kelebihan yang dimilikinya membuat material ini tidak saja dipakai sebagai bahan baku untuk perkakas rumah tangga, tetapi juga konstruksi.

Baja: Solusi Kondisi Lingkungan Yang Semakin Kritis

Anda pasti mengetahui dan menyadari betapa kritiis kondisi lingkungan kita sekarang. Hutan-hutan di Indonesia semakin terancam keberadaannya. Fenomena ini bisa dilihat dari semakin menyusutnya luas hutan yang kita miliki. Laju kerusakan hutan pada 1985-1997 tercatat mencapai  1,6 juta hektar per tahun. Angka ini bertambah menjadi 3,8 juta hektar per tahun 1997-2000.

                Lalu, dampak apa yang kita rasakan dari kerusakan lingkungan yang sepertinya tidak terbendung ini? Sebagai catatan, besar hutan alam di Pulau Jawa saat ini hanya tinggal 4%. Sejak 1995, pulau dengan jumlah penduduk terbanyak ini telah mengalami defisit air sebanyak 32,2 miliar mater kubik setiap tahun. Bayangkan jika kondisi ini berlangsung terus-menerus sementara jumlah penduduk juga terus bertambah… bukan tidak mungkin kelangsungan hidup manusia ikut terancam!

                Hutan yang berfungsi mengikat air hujan dan menyimpannya dalam bentuk air tanah juga berperan penting mencegah bencan seperti banjir dan tanah longsor. Selain itu, hutan merupakan sumber penyedia makanan dan obat-obatan, juga tempat hidup sebagian rakyat Indonesia. Jika hutan hilang, otomatis kita akan kehilangan sumber makanan dan obat-obatan. Belum lagi fungsinya sebagai paru-paru dunia; sumber O2 dan penyerap CO2 yang menjadi penyebab utama global warming. Tak diragukan lagi, hutan sudah selaknya kita jaga dan lestarikan!

                Di lain pihak, hutan dengan kayu sebagai sumber daya alam utamanya sangat diperlukan untuk memenuhi kebutuhan papan manusia. Hal inilah yang membuat sektor konstruksi manjadi salah satu penyebab utama pengrusakan lingkungan. Eksploitasi kayu sebagai bahan bangunan memiliki andil cukup besar dalam penyusutan hutan ini. Dan salah satu solusi yang dapat kita ambil mencari bahan lagi sebagai pengganti kayu. Baja merupakan salah saatunya.

                Dibanding kayu, baja memiliki lebih banyak keunggulan, diantaranya tingkat durabilitas yang tinggi (bisa bertahan 50-80 tahun), tahan api, stabil (strukturnya tidak mudah berubah), dan mudah dirawat (tidak lapuk atau tahan rayap). Sifat-sifat tersebut tidak kita temukan pada kayu. Dari segi harga baja juga tergolong lebih murah. Proses pemasangannya pun lebih cepat dan praktis.

                Keistimewaan lain yang tidak dimiliki kayu adalah baja dapat didaur ulang. Baja bekas dapat diolah dan dapat digunakan kembali. Hal ini tentu mengurangi energi yang harus dikeluarkan dalam penambahan bijih besi-bahan baku baja. Tidak hanya itu; energi yang digunakan untuk mendaur ulang baja lebih sedikit dibandingkan energi mmembuat baja baru dari bahan mentah. Penghematan bisa mencapai 75%!

                Kini, sebagian besar negara industri lebih mengutamakan penggunaan baja daur ulang dari pad baja baru. Selain prosesnya lebih murah dan hemat energi, langkah ini juga mengurangi kerusakan lingkungan akibat pembukaan penambangan baru. Bahkan baja tercatat sebagai salah satu material yang paling banyak di daur ulang di dunia.

                Adalah langkah bijak jika Anda mulai berpikir untuk menggunakan materi dalam konstruksi bangunan, khususnya baja daur ulang. Anda tidak perlu khawatir mengenai kualitasnya, sebab proses daur ulang sama sekali tidak mengurangi kandungan dan kekuatan baja itu sendiri. Selain untuk keperluan konstruksi, baja untuk bidang otomotif, kontainer, dan perkakas merupakan jenis-jenis yang paling sering didaur ulang. (GT)

Sejarah Baja dan Perannya Dalam Dunia Konstruksi

 

Peran baja dalam kehidupan manusiaternyata telah berlangsung dari ratusan tahun sebelum masehi. Jejak paling tua dari campuran logam ini tercatat 1400 SM. Pada masa itu, baja hanya dipakai untuk membuat senjata dan perkakas sehari-hari.

                Teknologi pembuatan baja terus berkembang. Salah satu peninggalan teknologi pembbuatan baja antik yang sangat terkenal adalah baja damaskus yang banyak dipakai sebagai senjata. Pisau atau pedang dari baja ini terkenal sangat kuat dan tajam, bisa memotong pedang dari logam biasa! Teknik pembuatan baja damaskus ini sampai sekarang masih menjadi misteri.

                Sejarah pembuatan baja modern dimulai pada abad ke – 19, berkat metode yang ditemukan Sir Henry Bessemer. Ia menemukan cara pembuatan baja secara masal namun ekonomis. Kemajuan dibidang teknologi ini pulalah yang secara tidak langsung mendorong lahirnya gerakan arsitektur modern pada 1860-an, yang pertama kali muncul di Eropa. Dari sinilah fungsi baja sebagai material konstruksi semakin dikenal.

                Awal abad ke – 20 merupakan era baja mulai berperan besar dalam dunia konstruksi. Peristiwa perang dunia II secara tidak langsug membantu penyebaran penggunaan baja ke seluruh dunia. Setelah perang berakhir, penggunaan baja semakin intensif karena baja semakin mudah didapatkan .

                Produksi baja yang silakukan secara massal berpengaruh besar pula dalam perkembangan dunia konstruksi. Struktur besar yang dulunya tidak mungkin terbangun dapat direalisasikan seiring dengan kemajuan industri baja. Gedung-gedung pencakar langit mualai bermunculan, terutama dinegara-negar maju. Beberapa gedung pencakar langit pertama di dunia yang menggunakan baja, antar lain Flatiron Building (1920), Chrysler Building (1930), dan Empire State Building (1931)-semuanya di Amerika Serikat. Sebelumnya, yaitu pada akhir abad ke- 19, Gustave Eiffel – insinyur dari Prancis – marencang menara Eiffel yang selesai dibangun pada 1889. Ikon Prancis ini juga merupakan tonggak dunia konstruksi modern yang memanfaatkan baja sebagai materialnya.

                Selanjutnya, aplikasi baja dalam konstruksi semakin berkembang. Klasifikasi pun semakin beragam sehingga dapat disesuaikan untuk berbagai keperluan. Salah satu inovasi yang sampai saat ini populer adalah stanless steel atau baja tahan karat. Selain dipakai sebagai material konstruksi bangunan, bahan dipakai juga buar ornamen dan patung/pahatan.

                Inovasi terus berjalan sampai ditemukan teknologi baru yaiitu baja ringan. Menurut ensiklopedia Encarta®, teknologi baja ringan ditemukan pada 1950-an. Baja ringan kemudian digunakan dalam konstruksi bangunan – baik berskala kecil maupun besar. (GT)

Apa Itu Baja Ringan?

Setelah tau sekilas soal baja – posisinya sebagai material pengganti kayu, sekelumit sejarah dan perannya dalam dunia konstruksi – Anda tentu ingin mengenal baja ringan lebih jauh.

                Baja ringan adalah baja berkualitas tinggi yang bersifat ringan dan tipis, namun kekuatannya tidak kalah dari baja konvensional. Ada beberapa macam baja ringan yang terbagi berdasarkan nilai tegangan tariknya (tensile strenght). Kemapuan tegangan tarik ini umumnya  didasari pada fungsi akhir dari baja ringan tersebut. Contohnya untuk berbagai produk struktual seperti rangka atap baja ringan haruslah menggunakan baja ringan dengan tegangan tarik tinggi (G550). Namun untuk berbagai produk home appliances misalnya, diperlukan baja ringan dengan tegangan tarik lebih rendah (G300,G250, dll.) yang lebih lentur dan lunak sehingga lebih mudah dibentuk. Karena tingkat kualitas dan tingkat tariknya tinggi, tak heran baja ringan lebih tipis  dan ringan dibandingkan baja konvensional.

                Baja G550 bisa diartikan sebagai baja yang mempunyai kuat tarik 550 MPa (Mega Pascal). Uji kualitas ini hanya dapat dibuktikan di laboraturium.

Ketebalan Baja Ringan

Lalu, berapa ketebalan baja ringan? Ibu Lucia Karina, VP Marketing & Solution BlueScope Steel Indonesia, menjelaskan bahwa ketebalan baja ringan di pasaran umumnya berkisar antara 0,2 – 2.0 mm. Variassai ketebalan ini ditentukan oleh fungsi, besar beban yang dipotong, dan ukuran bentang baja itu sendiri.

                Kuda-kuda baja ringan yang dikeluarkan BlueScope Lysaght misalnya, mempunyai ketebalan antara 0,45 – 1 mm. Lain lagi dengan kolom yang menopang beban besar; baja ringan dengan ketebalan 1 – 2 mm (kolom yang dibentuk dalam profil C) merupakan pilihan yang paling tepat. Sementara itu, untuk produk genteng metal yang notabene tidak memikul beban, baja ringan dengan tebal 0,2 mm sudah memadai. Variasi ketebalan yang ditentukan olah faktor-faktor di atas memiliki tingkat efektivitas produk yang lebih baik.

                Jika dicermati kembali, baja ringan memeng lebih tipis dibanding baja konvesional yang memiliki ketebalan 3 mm atau lebih. Dengan ketipisannya, Anda mungkin meragukan kekuatan material ini. Namun, Anda tidak perlu khawatir.kekuatan sangat bisa diandalkan, sebab – seperti telah dijelaskan sebelumnya – baja ringan terbuat dari baja bermutu tinggi. Massalah yang timbul karena ketipisan baja ringan adalah kurang kakunya struktur rangka baja itu sendiri. Di sinilah pengaku (bracing) dibutuhkan. Pengaku ini akan dijelaskan secara lebih mendetail pada bahasan “Rangka Atap Baja Ringan yang Sedang Populer”.

Lapisan Antikarat

Dari penjelasan sebelumnya, Anda pasti sudah tau kalau baja tersusun dari besi (Fe) dan karbon (C). Anda mungkin juga masih inget pelajaran kimia di bangku sekolah dulu, bahwa jika besi, air, dan udara bertemu, akan timbul reaksi yang mendorong munculnya karat. Baja, termasuk baja ringan, pasti berkarat. Karena itu, agar material ini awet atau tahan lama, ia perlu diberi lapisan antikarat.

Sampai saat ini telah di temukan 3 jenis lapisan antikarat:

  1. Lapisan zinc (Z) atau seng. Lapisan ini kerap disebut galvanis dengan bahan seng. Jumlah massa pelapis untuk lapisan anti karat ini bervariasi seperti Z 125, Z 175, Z 225. Adapun angka angka di belakang Z menunjukan ketebalan lapisan dalam satuan gr/m2. Sebagai contoh, salah satu produsen baja ringan yang memakai galvanis adalah Pryda. Ketebalan lapisan anti karat galvanis yang dipakai Pryda adalah 220 gr/m2. Hal ini sesuai dengan standar ASTM (American Society for Testing and Materials) yang menetapkan bahwa standar ketebalan minimum coating galvanis adaalah 180 gr/m2.
  2. Lapisan aluminium dan zinc (AZ). Sesuai namanya, lapisan ini tersusun atas aluminium dan seng. Sama seperti lapisan Z, AZ juga memiliki jumlah massa pelapis yang beragam seperti AZ 50, AZ 100, AZ 150, AZ 200. Angka dibelakang Z juga menunjukkan ketebalan lapisan dalam satuan gr/m2. BlueScope Lysaght memakai lapisan ini sabagai perlindungan terhadap karat, yang dikenal dengan brand ZINCALUME® dan TANGGUH ™. Ketebalan aluminium dan zinc (AZ) pada baja lapis ZINCALUME® adalah 150 gr/m2 dan 200 gr/m2. Penetapan kadar ketebalan lapisan antikarat ini diperoleh berdasarkan uji tes pada laboratorium sebelumnya.
  3. Lapisan magnesium, aluminium, dan zinc (MAZ). Sampai sekarang, teknologi baru ini belum masuk ke Indonesia. (GT)

Kelebihan Baja Ringan

Segala hal yang berhubungan dengan material bangunan bukan semata-mata milik orang yang berkecipung dalam dunia konstruksi dan arsitektur. Anda yang tidak berkecipung langsung pun perlu mengetahuinya. Pengetahuan ini akan amat mambantu Anda menentukan pilihan.

        Jika sebelumnya baja dikenal sebagai material yang kokoh dan jarang digunakan untuk rumah tinggal, kini teknologi berhasil menciptakan inovasi baru dalam bentuk baja ringan. Dan agar bisa memanfaatkannya secara maksimal, Anda perlu mengetahui bukan saja kelebihan material ini dibandingkan bahan lain, tapi juga harganya. Berikut rinciannya.

Ringan

Baja konvesional kurang efisien digunakan untuk bangunan berskala kecil, misalnya rumah tunggal. Sebagai kosekuensinya, teknologi baja ringan pun diciptakan. Setelah melalui rangkaian proses uji kualitas sendiri, baja ringan diproduksi dan dibedakan dari baja konvensual.

        Meski dikatakan ringan dan memilii dimensi lebih tipis, baja ringan tetap memiliki kualitas dan daya tahan tinggi. Baja jenis ini hadir dengan ketebalan mulai 0,2 milimeter untuk genteng metal, atau 0,45 – 1 milimeter untuk kuda-kuda berbentang keci. Dimensinya ini membuatnya menjadi pilihan tepat untuk struktur-struktur rumah tinggal, misalnya rangka atap. Dan untuk bidang rangka atap yang bersifat struktural atau menahan beban,  gunakan baja ringan berkualitas G550. Sementara itu, untuk penggunaan nonstruktural – seperti frame dinding – kualitas dibawahnya, yaitu G300, sudah memadai.

        Bisa dikatakan bahwa bangunan dengan struktur baja ringan memiliki beban lebih ringan dibandingkan material lain – misalnya saja beton. Sebagai salah satu material yang banyak dipakai sebagai pengisi struktur, beton membuat beban struktur menjadi lebih berat.

Tahan Rayap dan Karat

Sebagian besar orang menganggap karat merupakan proses reaksi alami yang terjadi pada bahan-bahan logam. Jika sudah terkena karat, benda itu dianggap sudah cacat atau rusak. Sebenernya,  apa karat itu? Apakah terjadai pula pada baja ringan?

        Secara kimiawi, apabila campuran logam besi yang ditambah karbon (campuran asli baja) mengalami kontak langsung dangan air dan udara, karat akan timbul. Karena itu, agar terhindar dari masalah ini, pastikan Anda menggunakan bahan yang sudah diberi pelapis (coating). Jenis pelapis coating yang ditawarkan produsen beragam, yang terpenting adalah Anda harus mengetahui betul kualitasnya. Salah satunya pelapis coating dari bahan paduan zinc-alumunium dengan komposisi 43,5% zinc, 55% alumunium, dan 1,5% silikon yang dikeluarkan BlueScope Steel Indonesia. Kadar yang digunakan mulai 100 gram/m2 hingga 200 gram/m2, tergantung kebutuhan. Lebih baik lagi jika Anda bisa menjauhkan baja ringa dari genangan air yang berlebihan, sebab air merupakan penyebab utama terjadinya korosi atau karat.

        Sementar itu, jika material alami (misalnya  Kayu) menjadi incaran empuk rayap, baja ringan terhindar dari ancaman ini. Saat mamakai material kayu, Anda harus menyemprotkan antirayap secara berkala. Tindakan ini tidak Anda perlukan saat memanfaatkan baja ringan.

Lebih Tahan Cuaca dan Gempa

Tinggal di negara tropis memaksa kita berhadapan dengan pergantian cuaca yang tergolong ekstrem. Mulai dari sinar matahari yang amat menyengat, hingga curah hujan yang amat tinggi. Kondisi seperti ini tentu memberi pengaruh juga kepada semua material yang kita gunakan pada bangunan. Masalah satu per satu timbul sehingga mengharuskan Anda menggantinya dalam ukuran waktu tertentu. Perlakuan lebih khusus berlaku untuk material yang langsung berhubungan dengan kondisi cuaca ekstrem itu.

        Untuk kondisi seperti ini, daya tahan baja ringan memang baik. Bahan pelapis yang sudah kita bahas sebelumnya memberikan potensi tinggi bagi bahan dasarnya. Untuk kinerja yang maksimal, perbarui pelapis coating baaja ringan setelah pemakaian 10 tahun.

        Bukan hanya itu. Kesatuan sistem pemasangan material ini membuatnya tahan guncangan (gempa). Sistem pemasangan yang saling terkait (dengan pengaku) memungkinkannya bergerak bersamaanpada saat guncangan datang. Hal ini sudah dibuktikan pada rumah-rumah yang dibangun pasca gempa atau bencana di wilayah  Aceh dan Yogyakarta beberapa tahun silam.

        Sebagai bukti lain, selain sebagai struktur bangunan, baja ringan juga dapat diaplikasikan  sebagai pagar, kompor, hingga pelapis antibocor. Jelas bahwa daya tahan baja ringan tidak perlu diragukan lagi.

Pemasangan Cepat

Dibanding material lain, proses pemasangan baja ringan tergolong singkat. Merupakan pemasangan paket, bagian-bagiannya tidak bisa dipisahkan. Sistem pengirimannya dilakukan secara seksama sehingga semua bagiannya dijamin terpasang dengan aman.

        Sebagai proses awal, ahli hitung dari produsen yang Anda pilih akan membaca gambar kerja dan seluruh dokumen yang dibutuhkan. Dari dokumen tersebut proses perhitungan dilakukan, untuk kemudian menghasilkan sebuah gambar kerja. Dari gambar itu, perakitan dipabrik mulai dilakukan. Sebagai konsumen, Anda dapat mengecek pekerjaan mereka saat proses ini berlangsung.

Beberapa sistem pembuatan rangka baja ringan adalah proses pabrikasi, yaitu dilakukan dipabrik. Alasannya adalah tingkat kesulitan dalam merangkai dan memotong cukup tiggi. Untuk melakukannya, dibutuhkan alat berat yang tidak mungkin dibawa ke luar pabrik. Begitu pula untuk proses pengecekan kualitas bahan.

Untuk pemasangan, bisa dilakukan dua metode, yaitu prapabrikasi dan semipabrikasi. Metode prapabrikasi berarti rangka dipasang di lokasi dalam kondisi utuh. Metode ini umumnya digunakan untuk pembuatan rangka yang tidak terlalu besar (misalnya rumah dengan lua 9 m2). Sementara itu, dalam metode semipabrik perakitan bahannya sebagian dilakukan di lapangan. Pemasangan ini biasanya memakan waktu 4-5 hari kerja dan dilakukan oleh 3-4 tukang.

                Hal penting yang harus dipahami adalah semua proses ini harus dilakukan oleh tenaga yang sudah ahli, tidak bisa dilakukan sembarang orang. Untuk mendapatkan tenaga yang benar-benar ahli, jangan segan untuk mengecek sertifikasi yang didapat dari pelatihan khusus pemasangan baja ringan (Dio).

Rangka Atap Baja Ringan yang Sedang Populer

Perlu disadari bahwa atap merupakan bidang yang paling inti dari bangunan – dalam hal ini rumah tinggal. Atap sebagai bidang teratas memiliki fungsi utama melindungi ruang-ruang dibawahnya. Dan bukan hanya bentuknya saja – misalnya bentuk segitiga yang lazim digunakan  di negara tropis – yang perlu diperhatikan, tapi juga struktur rangka di dalamnya dan lapisan penutupnnya. Banyak jenis dan bentuk yang dapat diaplikasikan, tergantung pada kebutuhan setiap bangunan.

        Dan seperti yang sudah disinggung sebelumnya, baja ringan semakin populer digunakan sebagai rangka atap. Bukan hanya memberikan banyak keuntungan – baik bagi pengguna maupun kontraktor/arsitek, tapi juga karena bahan ini bisa dikatakan tidak memerlukan perawatan khusus.

        Walaupun rangkanya baja ringan, bukan berarti Anda harus menggunakan penutup atap dari bahan yang sama. Rangka atap baja  ringan ini bisa disandingkan dengan penutup atap jenis apa pun, kok! Genteng kampung atau genteng beton contohnya. Yang perlu Anda perhatikan adalah sistem pemasangannya berbeda dengan pemasaangan pada rangka kayu. Dan pilihan Anda ini harus dikomunikasikan sebelumnya saat proses pembuataan rangka. Dengan demikian Anda bisa menghindsri kesalahan menghitung beban penutup atap.

Bentuk Atap

Seperti kita ketahui bersama, bentuk atap sebagian penutup bangunan memang beragam. Dalam memilih bentuk, bukan hanya kegemaran atau keindahan saja yang perlu dipertimbangkan. Hal penting seperti kondisi cuaca, bahan rangka, bahan penutup yang akan digunakan, dan fungsi ruangan yang dinaunginya pun demikian. Dalam hal ini, Anda sebaiknya menggunakan jasa arsitek.

        Rangka atap baja ringan sangat fleksibel digunakan untuk beragam bentuk. Yang paling umum digunakan tentu bentuk segitiga (misalnya limasan, tenda, maupun pelana). Dikatakan umum sebab sudut atap ini menjawab permasalahan iklim di Indonesia – kemiringannya memudahkan air hujan turunkepermukaan yang lebih rendah. Untuk baja ringan, sudut-sudut dari atap harus dipertimbangkan dengan tepat agar tidak terjadi kekeliruan dalam pemasangannya. Sudut-sudut pertemuan rangkanya perlu diberi pengaku agar ketahanannya tetap terjaga. Satu lagi yang perlu diingan, sudut yang digunakan tidak boleh terlalu landai.

        Bagaimana jika Anda tertarik kepada rangka atap yang bentuknya melengkung? Apakah baja ringan bisa mengakomodasinya? Tak perlu diragukan lagi, kesatuan rangka ini juga bisa diaplikasikan pada bentuk yang melengkung. Disini perlu dipahami  bahwa bukan rangka baja ringan yang dibuat melengkung melainkan penutupnya. Dan untuk menghasilkan lengkung sesuai keinginan, rangka baja ringan harus dibuat dari beberapa bagian dengan sudut menyerupai lengkung yang dikehendaki. Jumlah bagiannya ditentukan oleh perhitungan tersendiri.

Struktur Rangka Atap

Sitem struktur rangka atap yang  menggunakan baja ringan agak berbeda dari rangka kayu yang umumnya digunakan. Rangka kayu mempunyai elemen struktur yang terdiri atas kuda-kuda, grording, kasau, dan reng. Sementara itu, rangka atap baja ringan hanya terdiri atas kuda-kuda dan reng.

        Struktur rangka atap baja ringan didesain secara ekonomis, sesuai dengan kebutuha. Perhatikan pula jarak antar kuda-kudanya. Untuk rangka atap baja ringan, jaraknya berkisar antara 1,2 – 1,4 m, lebiih rapat jika dibandingkan kuda-kuda kayu yang berjarak 3 meter.

        Jika Anda memutuskan untuk memakai baja ringan merek Pryda, rangka atapnya bukan hanya terdiri atas kuda-kuda dan reng, tapi juga dilengkapi batang pengaku. Elemen satu ini menunjang sifat baja yang kuat namun memiliki tingkat kelakuan rendah (lentur).

        Batang pengaku memegang peranan penting dalam sistem rangka atap.  Jika  rangka tidak cukup kaku, struktur cenderung labil sehingga tidak mampu menahan beban pada struktur itu. Tak heran banyak rangka atap roboh karena kekurangan batang pengaku.

        Terdapat beberapa jenis batang pengaku yang bisa melengkapi sistem rangka atap baja ringan, masing-masing memiliki fungsi berbeda. “Ada batang pengaku khusus untuk menahan angin dan gaya lateral (diagonal web bracing), pengaku batang atas dan bawah (top and bottom chord bracing), pengaku  batang tengah untuk mengurangi gaya tekuk (lateral tie), dan strap brace yang bentuknya seperti pita dari baja. Yang terakhir ini untuk menahan angin dan gempa”, jelas Bapak Pandu Widyanto dari PT Pryda Indonesia. Untuk bangunan yang berada pada lokasi berangin – misalnya atap bangunan tinggi (high rise), terkadang ditambahkan pula cyclone strap (penahan angin).

        Kuda-kuda, reng, dan batang pengaku disatukan dengan sekrup khusus berlapis galvanis. Sekrup ini didesain sedemikian rupa agar dapat memegang pertemuan antarprofil dengan kuat.

        Rangka atap baja ringan dari Bluscope juga mengenal batang pengaku ini. Terdiri atas sistem kuda-kuda dan reng, rangkanya diperkuat dengan batang pengaku. Bentuknya berupa pelat tipis dengan ketebalan 1 mm, ada pula yang berbentuk batang yang menyilang dan mengikat beberapa elemen kuda-kuda. Jumlah, penempatan, dan cara pasangnya tergantung pada bentuk kuda-kudanya. Ini sangat penting untuk diperhatikan mengingat rangka atap harus menjadi satu kesatuan struktur yang kaku. Di lain pihak, jika kuda-kuda dirasa cukup kuat menghadapi angin dan gaya lateral, batang pengaku tidak diperlukan lagi.

Lapisan Penahan Panas

Sebelum ditutup dengan bahan penutup atap – misalnya lembaran baja ringan gelombang, genteng keramik, tanah liat, atau genteng beton – terlebih dulu rangka atap baja ringan dapat dilapisi penahan panas. Pilihlah lapisan insulator yang terbuat dari glasswool, lembaran baja tipis, atau produk penahan panas yang lain.

Jenis-Jenis Penutup

Seperti dijelaskan sebelumnya, rangka atap baja ringan bisa ditutupi penutup atap dari bahan apa pun, mulai dari lembaran baja ringan bergelombangan,  genteng metal, genteng tanah liat, keramik, beton, metal, maupun genteng aspal.

        Sebagai material yang bersinggungan langsung dengan rangka baja ringan, beban penutup atap akan langsung diterima rangka atap. Untuk itu, jangan lupa untuk mengonsultasikan bahan penutup atap yang Anda pilih kepada produsen, mulai dari bahan, bentuk, ukuran, dan aksesoris  pelengkapnya (nok, jurai, dan sebagainya). Dengan begitu, mereka bisa membuat rangka baja yang sesuai dengan karakteristik bahan penutup atap. Produsen baja ringan telah mempersiapkan berbagai metode dan taknologi untuk memudahkan pemasangan berbagai bahan penutup atap tersebut.

        Jelas bahwa sebaiknya Anda memilih bahan penutup terlebih dulu sebelum memilih rangka atap baja ringan karena setiap bahan penutup atap pasti punya karakteristik berbeda-beda. Berat genteng beton, sebagai contoh, pasti berbeda dari berat genteng metal. Ukuran genteng tanah liat pun berbeda dari ukuran genteng metal lembaran. Dengan berat dan ukuran yang berbeda, kebutuhan akan tiap profil baja pun berbeda. Secara otomatis beban yang lebih berat mengharuskan penambahan dan perbesaran profil. Demikian pula jika menyangkut ukuran. Semakin besar bahan penutup atap, semakin besar pula jarak antarreng. Jumlah kebutuhan profil untuk reng pun kemungkinan besar berbeda (Dio & Nay).

Cermat Memilih Konstruksi Baja

Tentu Anda pernah atua bahkan masih mengingat banyak kasus yang diungkap  berkenaan dengan robohnya rumah tinggal dengan atap baja ringan. Sedihnya, kejadian ini bahkan tidak hanya menimpa rumah tinggal, melainkan juga fasilitas umum seperti bangunan sekolah. Bayangkan jika dalam bencana tersebut juga terdapat orang-orang yang tengah beraktivitas di dalamnya! Anda tidak mau berada dalam kejadian seperti ini, bukan? Jadi, apa yang keliru dari semua kejadian tersebut?

        Hal memprihatinkan ini kian menjadi perhatian, khususnya oleh produsen baja ringan. Anggapan masyarakat bahwa rangka atap baja ringan mudah roboh ingin segera ditepis jauh-jauh. Beragam upaya pun dilakukan dengan maksimal agar masyarakat tidak salah paham. Masyarakat harus tau apa penyebat robohnya itu.

        Setelah mambaca penjelasan sebelumnya, Anda bisa menangkap bahwa material  ini merupakan hasil inovasi tinggi yang dibuat dengan sistem yang amat terencana. Mulai dari proses pembuatan dipabrik  (yang juga menerangkan uji kualitas tersendiri), sistem pembuatan rangka, sistem pengecekan ulang di lapangan, hingga sistem pemasangannya, semua begitu terencana. Kesatuan proses ini mungkin tidak dilakukan jika Anda menggunakan material lain. Belum lagi tenaga-tenag ahli bersertifikat  yang mengerjakannya; semua menjadi jaminan keamanan penggunaan bahan ini.

        Rupanya beberapa kalangan menganggap proses-proses tidak dapat dilakukan oleh siapa saja. Hanya bermodalkan pengalaman dan pengetahuan yang kian mudah didapat, banyak pihak beranggapan mereka sudah berkompeten mengerjakan proyek pemasangan baja ringan. Tawaran-tawaran pun disebarkan ke masyarakat umum. Yang tidak jeli menyambut tawaran itu. Mereka tidak tahu ada kesatuan  proses yang harus benar-benar diperhatikan baik pengguna mau pun pelaksananya.

        Singkat kata, beberapa kasus kerobohan terjadi karena kesalahan-kesalahan teknis. Mulai dari perhitungan yang tidak tepat (baik dimensi rangka atap, jarak rangka atap), peletakan yang kurang tepat, atau kurangnya sistem pengakuan. Ingat, kurang satu sekrup pun dapat berakibat fatal, sebab rangka atap baja ringan merupakan satu kesatuan.

        Kerobohan juga dapat terjadi jika pemasangan rangka atap baja ringan tidak didesain sebelumnya. Peletakan balok, kuda-kuda, dan reng yang tidak diperhitungkan berisiko menghasilkan kekacauan basar. Karena itu, hindari pembelian rangka atap baja ringan dalam bentuk eceran. Hindari pemikiran bahwa Anda bisa membeli batang baja ringan untuk kuda-kuda, yang baru akan Anda rangka di kemudian hari. Dalam hal ini baja ringan amat berbeda dengan material lain, misalnya kayu. Satu hal lain yang bisa menimbulkan petaka, tawaran yang menggiurkan soal harga. Karena tawaran harga yang lebih murah, masyarakat mudah tergiur dan memilih sebuah produk tanpa pertimbangan matang. Padahal, risiko yang ditanggung amatlah besar! Dalam hal ini, Anda sebagai konsumen atau pengguna harus sangat berhati-hati. Memilih produsen yang berkualitas (baik barang yang ditawarkan maupun tenaga kerjanya) merupakan kewajiban Anda. Jangan mempertaruhkan keselamatan Anda dan keluarga! (Dio).